MY TRUE STORY FROM THE DEEPEST HEART - INDEKOS

           
             

            Kost atau istilah kerennya adalah boarding house, dimana kebanyakan tempatnya kecil, sempit, dan seadanya ya begitulah cukup buat satu orang aja. Sama seperti ukuran kamar yang berkisar tidak kurang dari 4x4 meteran lah, bisa dibayangin kan seberapa luasnya itu hahaha. Bagi sebagian orang mungkin istilah ngekost sudah biasa dan sudah terlalu mainstream dan tidak begitu menyusahkan, ya anggaplah sudah bagian dari hidupnya. Tapi tidak begitu dengan yang kurasakan sekarang, saat aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke Undiksha yang letaknya cukup jauh dari rumahku, sekitar 2 setengah jaman lah baru sampai disingaraja kalau naik motor, dan 2 jaman kalo naik mobil dan bisa jadi sampai 3 jaman kalau di Bedugul lg crowded. ya saat hari pertamaku menjalani hidup sebagai anak kost, rasanya seperti orang yang ditinggal keluarganya selama bertahun lamanya, sedih sekali rasanya saat ortuku pamit meninggalkanku sendiri di tempat kost ku, ya awalnya sih aku tidak menangis, namun saat mereka telah berangkat meninggalkan gerbang, wah rasanya itu pecah banget deh seakan pengen ikut pulang tapi ditahan, pengen kembali kerumah yang aku cintai tapi harus bergelut dengan suasana yang sangat haru. Air mataku tak henti-hentinya menetes sampai-sampai tissueku habis untuk mengusap air mataku. Ternyata benar kata guruku dlu, apa yang ia katakan tentang hal ini terjadi juga padaku sekarang. Berat sekali melepas kepergian orang tuaku kembali ke Denpasar, sesak dada ini menahan isak tangis yang tak henti-hentinya mengalir deras seakan membanjiri bajuku saat itu. Ibuku cuma bisa melambai-lambaikan tangannya sembari tersenyum padaku dan berpesan padaku "hati-hati disini ya de jaga diri baik-baik inget makan dan berdoa ya, ade harus sukses dan menjadi kebanggaan ibu yang giat belajar ya ade ibu mau pulang dulu daa daa adeku sayang". Ya sepenggal kalimat itu yang membuat aku semangat dan seakan mencambukku agar aku kuat menjalani kehidupanku disini. Aku tau dalam hatinya ibuku menangis tapi demi melihatku agar semangat ibuku menutupi kesedihannya itu dengan tersenyum padaku dan menasehatiku dengan nada suara yang bergetar seperti orang mau menangis tapi ditahan. Pintu gerbang telah ditutup dan keluargaku telah pulang ke Denpasar. Saat aku kembali ke kamarku aku merasa seperti orang asing yang tersesat di daerah orang. ya tentu aku merasa aneh dan belum terbiasa menjadi anak kost, semua penghuni lainnya tampak diam di dalam kamarnya masing-masing dan menutup rapat pintunya, begitu juga denganku aku langsung mengunci pintuku dan bercermin, aku melihat diriku yang sekarang begitu lemah, rapuh, tak berdaya dan pasrah, mataku bengkak karena seharian menangis sampai tidak bisa lagi meneteskan air mataku, wajahku merah seperti kepiting rebus karena aku saat itu menahan rasa kangen dan rindu ingin pulang, rambutku tampak terurai dan berantakan seperti singa, wajar karena saat itu aku sedang memulai kehidupan baru seorang diri. Waktuku pun berlalu kini malam telah tiba saat itu aku sedang masa haid jadinya aku tidak bisa mebanten dan bersembahyang di tugu depan kost, aku hanya bisa berdoa di dalam hati sembari membaca buku doa doa yang dibekali ibuku, secara langsung saat itu aku mendadak menjadi agamais dan spiritual, haha tapi aku senang menjadi seperti itu, aku lebih mendekatkan diriku dengan Ida Sang Hyang Widhi sambil berdoa agar ortuku selalu diberikan kesehatan, selalu dimurahkan rejekinya dan panjang umur. Mantram gayatri aku lantunkan selama aku berdoa dan aku percaya kalau bisa menghayatinya dengan baik maka semua yang kita inginkan akan dapat terwujud. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9, ibuku menelponku dan menanyakan bagaimana keadaanku, ia berkata " ade udah maam? ade lagi ngapain ini jangan begadang ya istirahat dulu inget minum susu sebelum tidur ade" dan akupun hanya bisa diam sambil menahan tangisanku yang spontan menetes deras, aku hanya bisa mengatakan " iya buk" dan tidak kuat rasanya melanjutkan pembicaraanku dengannya,dengan berat hati aku menutup telponnya dan melanjutkan tangisanku tanpa suara namun terisak-isak sembari menahan sesak di dadaku. Entah kenapa saat aku mendengar apapun tentang ibuku entah ditelpon di sms ataupun melihat fotonya, air mataku langsung membasuhi wajahku ini. Aku merasa ada ikatan bathin antara aku dengan ibuku, wajar ya karena ia yang telah mengandungku selama 9 bulan, dan sekarang aku berada jauh darinya makanya aku menjadi kesepian tanpa kasih sayangnya dan pelukan hangatnya. Untung aku masih menyimpan fotonya yang sudah aku cetak ukuran 3 r jadinya kalau aku kangen ibu aku langsung saja melihat fotonya dan mengusap wajahnya. Kenapa ya dulu aku gak pernah selemah ini, semenjak jauh dari ortu sikapku jadi tertutup lemah cepet nangis dan stres, mungkin karena aku kesepian ditinggal seorang diri di tempat orang, tak terasa sudah 1 bulan aku menjalani hidup sebagai anak kost, tapi masih saja aku merindukan sosok ibu yang selalu ada untukku dulu. semua serba sendiri aku jalani, mulai dari bangun sampai tidur lagi sebatang kara aku lewati. Ada saatnya aku benar-benar sedih, apalagi kalau udah mendekati kamis malam, perasaanku hampir pecah karena tidak sabar menanti hari esok, hari dimana aku pulang ke rumah tercinta ya ke Denpasar. begitu bahagianya hati ini merasakan pulang ke rumah ingin melepas kangen bersama keluarga tercinta. 
            Memang begitu sulit menjalani kehidupan sebagai anak kost, apalagi tinggal di perantauan, kalo sakit gak ada yang ngurusin, ya astungkara aku sehat selalu berkat doa orang-orang tercinta. fase kritisku ialah saat 3 bulan pertama tinggal di kamar kost, sangat sulit beradaptasi dengan dunia baru yang belum pernah aku jalani sebelumnya, namun setelah melewati 3 bulan itu, kini aku merasa terbiasa dan tidak terlalu homesick lagi, ya mungkin seiring berjalannya waktu, aku menikmati prosesnya dan hari demi hari telah aku lalui dengan berbagai cobaan dan rintangan. Kini aku telah menginjak semester 3, tidak terasa 1 tahun telah berlalu dan aku masih betah tinggal di kamarku ini atau my second home, senang rasanya menghabiskan liburan pertamaku yang telah lama aku nanti-nantikan, walaupun harus melaksanakan PPL-Awal sepanjang liburanku itu, tapi setidaknya aku bisa beristirahat di rumahku sendiri dan tidak di kamar kostku yang sempit. kira-kira 3 minggu lamanya liburan semester 2 ku, hari demi hari aku manfaatkan semaksimal mungkin,sebagian aku isi dengan membuat laporan PPL dan sebagiannya lagi aku manfaatkan untuk bercengkrama serta berkumpul bersama keluarga tercintaku. Terasa banget bedanya saat aku tinggal dikost dan di rumah sendiri, sejak tinggal dirumah aku sangat diperhatikan oleh keluargaku, disayangi, diberlakukan dengan sepenuh hati serta apa mauku selalu dipenuhi walaupun aku tidak meminta yang berlebihan namun hanya sewajarnya saja, dan ini bukanlah berarti kalo dikost aku tidak mendapatkan apa yang aku dapatkan dirumah, sepertinya sama saja namun kesannya berbeda ya kalian pasti taulah apa maksudku, momen berharga bersama keluarganya itulah yang tidak aku rasakan ketika tinggal di kost. Menjelang liburan berakhir aku merasa senang dan juga sedih, mengapa demikian? ya disatu sisi aku merasa senang dan bersemangat untuk menjalankan perkuliahan semester 3 yang telah di depan mata serta deg- degan karena mulai mendapatkan dosen profesor karena itulah aku menjadi terpacu untuk melanjutkan pelajaranku, namun disisi lain aku merasa sedih dan galau, karena aku akan kembali menjalani kehidupan menjadi anak kost yang tentunya jauh dari keluargaku, itulah satu satunya penyakitku yang sangat sulit diobati dengan apapun. Tapi aku tidak patah semangat, aku yakin mereka juga senang jika aku bisa membanggakan mereka dikemudian hari maka dari itu, mereka memotivasiku untuk bangkit lagi menjalani hari-hariku di perantauan. Dan akhirnya berkat dorongan serta kepercayaan yang telah diberikan oleh keluargaku aku menjadi semangat kembali bahkan bisa dikatakan lebih semangat dari tahun lalu. 
            Mungkin begitulah kehidupan anak kost di perantauan yang sedang menimba ilmu yang bisa aku curahkan dalam post ku kali ini, pesanku kepada kalian yang mungkin memiliki pengalaman yang sama sepertiku atau mungkin yang sedang menjalaninya, tetaplah semangat belajar dan raihlah cita-citamu walaupun kita tinggal di perantauan, namun ingatlah kembali tujuan kita kesini buat apa? ya tentu buat meraih apa yang kita inginkan serta membanggakan orang tua, maka sebab itu janganlah terlalu sering mengeluh dengan apa yang kita jalani saat ini, semua itu tentu ada prosesnya kan, dan tidak ada yang instant, seperti pepatah mengatakan "apa yang kau tanam, maka itulah yang akan kau tuai", apa yang kita lakukan diperantauan tentu itu yang akan kita dapatkan kelak, mungkin ada yang akan mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah karena sepanjang di perantauan ia giat belajar serta melakukan hal-hal positif walaupun jauh dari orang tua, sebaliknya mungkin ada yang mendapatkan penyesalan, karena apa yang mereka laukan sangat bertentangan dengan apa yang dipesankan oleh orang tua serta agama, aku yakin kalian pasti tau apa yang aku maksud ya dalam tanda petik (tiitt). Nah gesss, janganlah merusak kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kita ya gess, karena kepercayaan itu tidak bisa dikembalikan lagi bila sudah hancur. sekian postinganku kali ini ya gess semoga kalian senang membacanya dan semoga bermanfaat yaaa. -lr

Comments

Popular Posts