Based on the true story!
Disudut pagi yang cerah, kumasuki kelas 9c untuk memulai
pembelajaran semester pertama. Seperti biasa ketika memasuki kelas baru, aku
harus beradaptasi dengan lingkungan kelas dan teman-teman baru di kelas baru
ini. Memang, sebagian teman-teman ada yang sudah aku kenal, tapi tidak sedikit
juga yang belum aku kenal dari kelas 8 dulu. Ya , kelasku di rolling setiap tahun setelah kenaikan
kelas. Dan aku terpisah dari teman-temanku di kelas 8 dulu.
Oh ya, perkenalkan namaku Maharani, biasa dipanggil Rani.
Aku punya sahabat yang baik. Dia juga bersekolah yang sama denganku. Dia
sekarang menempati kelas 9e, Ayuk namanya. Aku mengenal dia sejak aku dan dia
sekelas di kelas 8a dulu. Walau sekarang kita tidak sekelas lagi, tapi kita tetap
menjalin persahabatan yang akrab.
Ayuk adalah sosok sahabat yang terbaik untukku yang pernah
aku temukan di SMP ini. Dia selalu ada untukku dalam suka maupun duka. Dan
akupun berusaha untuk selalu berada disampingnya. Mungkin ini yang dinamakan
persahabatan, selalu mengisi satu sama lain.
Saat aku memasuki kelas baruku, aku berkenalan dengan
teman-teman. Kini aku mengenal Ina, teman sebangkuku, lalu Didit dan
Radit yang duduk di bangku belakangku. Kami saling berkenalan satu sama lain.
Kami merasa akrab.
Saat jam pulang tiba, aku menunggu Ayuk didepan kelasnya.
Terkadang juga Ayuk yang menunggu aku di depan kelasku. Aku dan Ayuk
menceritakan suasana kelas baru kita masing-masing. Kami bercanda tawa. Sejak
dari kelas 8, aku dan Ayuk selalu menceritakan hal-hal yang mungkin kita anggap
tidak biasa. Kami selalu terbuka dan tidak menyimpan rahasia diantara kita.
Hingga suatu ketika, saat dia jatuh cinta pun dia menceritakan sosok laki-laki
yang dicintainya. Dan aku juga merasakan hal yang sama, jatuh cinta pada
seseorang. Parahnya, ternyata sosok laki-laki yang kami cintai adalah laki-laki
yang sama, Didit. Ya Didit teman sekelasku. “Tidak… mengapa kita mencintai
orang yang sama?”
Aku menyadari jika dilihat dari fisik, Ayuk memang lebih
dari aku. Saat itulah aku merasa pesimis dengan kenyataan yang akan aku hadapi
ke depan dengan cinta segitiga ini.
“Mungkinkah dia memilihku?” aku bertanya-tanya dalam hati.
“Aku tidak menarik. Kalau mungkin Didit kita suruh memilih,
pasti Didit lebih memilih kamu, Yuk,” kataku dengan hati yang menyesakkan.
“Belum tentu juga Didit memilih aku, ingat di dunia ini
tidak ada yang tidak mungkin!” balas Ayuk dengan kata-kata andalannya.
Aku terdiam… secara refleks aku berkata,
“Kalau misalkan dia lebih memilih kamu dan akhirnya kamu pacaran,
lebih baik persahabatan kita cukup sampai disini!” ucapku tanpa berpikir
panjang.
Sontak Ayuk pun terkejut, dan tidak menyangka kalau aku akan
berkata seperti itu.
“Rani… apa yang barusan kamu katakan? apa hanya karena
seorang laki-laki, kamu mutusin persahabatan kita?” ucap Ayuk dengan mata yang
mulai berkaca-kaca.
Aku terdiam, Aku pun merasa bersalah pada Ayuk, tidak
seharusnya aku berkata seperti itu kepadanya, lantas aku pun langsung meminta
maaf kepadanya dan berjanji tidak akan pernah mutusin persahabatan kita sampai
kapanpun.
Hari berganti hari, Ayuk sedikit demi sedikit menghilangkan
rasa cintanya kepada Didit. Tapi aku masih menyimpan perasaan sukaku. Pada
akhirnya Ayuk mengatakan bahwa dia rela melepas Didit untukku.
Hari telah berlalu, aku sudah cukup mengenal Didit. Rasa
suka itu tetap ada untuknya. Tapi aku merahasiakan perasaanku kepada Didit dan
hanya Ayuk seorang yang tahu dan berjanji tidak akan menceritakan kepada
siapapun sekalipun itu kepada Didit.
Pada suatu hari, setelah aku pulang dari sekolah, ku ambil handphoneku. Tidak kusangka dan tak
dapat kupercaya, aku mendapat pesan dari Didit yang isinya Didit menyatakan
cintanya padaku. Sungguh aku merasa sangat bahagia karena dicintai oleh orang
yang aku cintai. Tapi saat itu aku bimbang, aku tidak merespon tentang
perasaannya terhadapku. Karena pikirku, dia hanya main-main dan tidak serius.
Keesokan harinya di sekolah, aku masih mengingat kejadian
kemarin. Aku menceritakan kepada Ayuk. Dia merasa senang sekali Didit
menyatakan cintanya ke aku. Ayuk memang sahabat yang baik. Dia tidak sedikitpun
mempunyai rasa dendam kepadaku.
Hari berlalu, ternyata aku mengenal Didit yang sebenarnya. Didit
tidak lebih dari seorang playboy.
Aku dan Ayuk sangat menyesal, karena kita pernah mencintai orang yang salah.
Tapi untung saja ketika dia menyatakan cinta dulu, aku tidak menerimanya bahkan
akupun tidak meresponnya. Ayuk juga memutuskan untuk berhenti mengikuti
perasaannya.
Tahun pun kini telah berganti, 2010 berlalu. Aku dan Didit
masih berhubungan sebagai teman akrab. Mungkin menjalin pertemanan akan lebih
baik daripada pacaran.
Aku sadar bahwa aku adalah seorang pelajar, tugas seorang
pelajar adalah belajar. Saat itu aku memutuskan untuk tidak pacaran dulu. Aku
memilih untuk terus menuntut ilmu sampai aku menjadi orang yang berprestasi.
Sampai saat inipun aku belum pernah merasakan cinta-cintaan. apa itu cinta dan
apa itu pacaran. Aku yakin suatu saat nanti akan ada waktu yang tepat untuk aku
memulai suatu hubungan itu. -lr



Comments
Post a Comment