Based on the true story!



Namaku adalah Lelyana Rastari, kerap dipanggil Lely, aku hidup dalam suatu keluarga sederhana. Walaupun hidup dalam kesederhanaan tetapi aku masih mampu untuk menikmati kebahagiaan, yaitu berkumpul bersama keluarga yang serasa suasananya begitu harmonis dan penuh dengan kedamaian. Aku  sangat mencintai keluargaku, terutama ibuku, karena ia adalah orang yang telah melahirkanku dan sosok wanita yang sabar, penyayang, bahkan selalu ada waktu untukku. Maka dari itu aku sangat menghormatinya dan tidak berani melawannya, kadang aku juga membantah perintahnya karena ada suatu hal. Keseharianku, aku dikenal sebagai anak yang polos,terkadang menurut dengan orangtua, dan orang-orang sekitarku menilai sifatku masih kekanak-kanakan, entah mengapa bisa seperti demikian, aku juga kurang tahu, mungkin aku perlu introspeksi diri untuk menyikapinya. Itu merupakan perkenalan singkat tentang diriku. Nah, sekarang aku akan menceritakan tentang kehidupanku saat menginjak usia remaja.
Saat itu, 16 Mei 2012 bertepatan dengan perayaan hari ulang tahunku yang ke-15, walaupun tidak dirayakan semeriah mungkin tapi, aku cukup senang karena ibuku membuatkanku acara kecil kecilan, ya acara ultah sederhana gitulah alakadarnya. Hanya terdapat nasi tumpeng dan kue tart yang berukuran kecil di atas meja tempat ultahku berlangsung.  Banyak teman dan sahabat karibku yang datang saat malam itu, lumayan banyak juga yang memberikanku kado atau hadiah sebagai ucapan selamat padaku, aku heran kenapa ya?? teman-teman malah memberi ucapan selamat ultah padaku, padahal usiaku semakin berkurang, yah begitulah. Tepat dipertengahan acara, waktunya aku untuk membuat suatu pengharapan agar apa yang diangan-angankan bisa tercapai, istilahnya make a wish sebelum tiup lilin. Dan akhirnya acara selesai, aku bersyukur karena acara ultahku berlangsung lancar tanpa ada hambatan apapun. Aku sangat bahagia. Begitu banyak sesuatu baru yang aku dapatkan, mulai dari hal yang kecil seperti kebiasaanku yang buruk terdahulu, sudah bisa aku kurangi. Aku merasa diriku sudah menginjak remaja, yaitu peralihan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Aku mulai belajar mandiri artinya, aku mulai bisa bertanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh ortuku, walaupun belum aku jalani seoptimal mungkin. Rasa ketergantungan dengan ortu sudah mulai aku kurangi. Pola pikirku agak berkembang dan tidak lagi seperti anak kecil tapi, pemikiranku sudah mulai seperti orang dewasa pada umumnya yaitu, mulai merencanakan masa depan dari sekarang. Berbagai petuah dan nasehat seakan-akan membanjiriku, seperti yang terlontar dari ucapan ortuku, seraya bermaksud untuk membekali jalan kehidupanku kelak, entah apa arti dari semua itu, aku juga kurang tahu tapi, setidaknya ada yang meresap dibenakku. Aku sadar akan posisiku sekarang yang cukup sulit, karena banyak sekali beban yang aku pikul, sedikit saja salah melangkah tamatlah riwayatku. Maka dari itu aku harus punya prinsip, prinsip yang dapat diterapkan sebagai pedoman, penuntun, panduan serta wadah untuk menjalani kehidupanku kedepannya. Aku berpegang teguh pada prinsipku yaitu, “aku harus sukses, aku pasti bisa, sebelum sukses tidak ada kata menyerah dalam kamusku” begitulah mottoku. Aku ingin melihat ortu bangga dan merasakan bahwa ia telah berhasil mendidik serta membimbingku menjadi orang yang sukses dari jeri payahnya selama ini membanting tulang untuk menghidupi dan menyekolahkanku. Mulai sekarang aku telah berusaha menerapkan prinsipku itu.
Sekarang aku sudah menjinjak kelas 1 SMA, dimana masa-masa ini notabene, seorang remaja mulai merasakan yang namanya cinta dan mulai timbul perasaan tertarik terhadap lawan jenis, biasanya mereka sangat labil mentalnya dan susah diatur. Tidak dapat dipungkiri, aku juga merasakan itu. Ortuku berpesan, aku dilarang berpacaran dan tidak diperbolehkan sekali-kali untuk dekat atau ttm-an dengan cowok. Aku mengerti dan paham apa maksudnya itu, dominan ortu menginginkan agar anaknya sukses dan tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran artinya, agar terhindar dalam pergaulan bebas atau yang lebih parahnya seks bebas yang belakangan ini marak dijumpai kasus demikian di kalangan remaja. Mungkin tujuan ortuku ini sangat baik, ia ingin agar aku fokus belajar dan tidak memikirkan masalah pacaran, aku juga setuju dengan syarat yang diajukan olehnya, karena aku berpikir begini, “ortuku susah payah menguras tenaga serta keringat untuk mencari uang demi menyekolahkanku dan jikalau aku sampai berani melanggar perintahnya maka, aku sendiri yang akan menghukum diriku sebagai anak yang tidak tahu diri”,buat apa mereka susah-susah cari uang sedangkan aku malah santai enak-enakan keluyuran gak jelas gitu. Maka dari itu aku kasian dengan ortuku, aku berjanji dengan diriku bahwa, aku tidak akan menyianyiakan waktuku untuk hal-hal yang gak penting.
Beberapa bulan telah berjalan, kini aku sudah menginjak semester 2. Saat jam istirahat tiba di kelas, teman-temanku pada asyik ngomongin tentang pacarnya,sedangkan aku hanya duduk diam termenung dan berpangku tangan, seolah-olah seperti orang kuper dan polos lugu gitulah. Hingga pernah suatu hari ada temanku yang ngobrol denganku, dan bertanya padaku, “Lel, khe dah punya pacar?” begitu ujarnya seraya dengan nada penuh penasaran. Aku hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala dan berkata, “aku belum punya pacar soalnya aku enggak dikasik pacaran” dengan penuh keyakinan aku langsung menjawabnya. Tak cukup sampai disana saja, ia kembali bertanya padaku, “iih jaman nurutin kata ortu? Gak jaman lely, mau aja khe diatur-atur sama ortumu, jugaan khe yang bakalan nentuin hidupmu bukan ortumu lel, dasar anak mami khe lel” ujarnya padaku dengan nada penuh menghina dan merendahkanku. Tak apalah aku digituin yang penting aku tetap nurut sama ortuku. Keesokan harinya, saat bel berbunyi waktunya istirahat, ada salah satu temanku yang curhat denganku, aku dan dia saling share dan menyampaikan uneg-uneg masing-masing. Ternyata akhirnya ujung-ujungnya kami menghadapi permasalahan yang sama, dia juga dilarang pacaran tapi, dia punya cara untuk menyiasatinya, dengan berpura-pura menyetujui perintah ortunya tetapi, dia main belakang dan pacaran sembunyi-sembunyi istilahnya backstreet gitulah. Dia melakukan itu karena tidak tahan dengan aturan ortunya dan ingin melampiaskan rasa sayangnya kepada orang yang dia sukai itu. Dia juga sempat menyarankanku agar berpura-pura menuruti kemauan ortu sama seperti yang ia lakukan. Aku hanya diam dan mengiyakan saja perkataannya itu. Dan akhirnya bel berbunyi pelajaran telah usai dan waktunya untuk pulang. Segeralah aku bergegas pulang ke rumah, karena ibu telah menanti kedatanganku, ibu juga membuat aturan bahwa, saat bel pulang aku harus pulang ke rumah dan tidak boleh keluyuran kemana-mana kecuali, kalau ada pelajaran tambahan atau minta izin dulu dengannya.
Setibanya di rumah, seperti biasa aku langsung ganti baju lalu makan siang, setelah itu aku meluangkan waktu untuk membuat pr sebelum beristirahat. Waktu terus berlalu, sang surya telah pulang ke peraduannya. Malampun tiba, semilir angin malam seakan menusuk sukma, heningnya suasana malam disertai dengan bunyi jangkrik serasa menemaniku, kunang-kunang dibalik jendela kamarku tampak bagai lentera yang menerangiku dalam kegelapan seakan menghiasi gemerlap malam. Dan saat malam itu juga aku mulai merenungi kejadian tadi siang di sekolah, sempat terlintas dibenakku, aku ingin rasanya mengikuti saran temanku dan untuk sementara waktu mengabaikan aturan ortuku. Disatu sisi aku ingin merasakan pacaran tapi disisi lain aku tidak mau menjadi anak durhaka dan membangkang dengan ortuku. Dan setelah lama aku merenung, tanpa pikir panjang aku mengabaikan pesan ortuku. Selang beberapa minggu aku mulai berani menjalin hubunga atau backstreet lah dengan teman dekatku. Aku tidak memikirkan akibatnya, omongan ortuku aku anggap sebagai angin lalu karena yang ada dipikiranku hanya ingin merasakan yang namanya pacaran saja, entah berapa lama hubunganku ini akan bertahan, aku pasrah saja menjalaninya. Keesokan harinya teman-teman dikelas telah menyambut kedatanganku, mereka tampak berantusias menanyakan tentang kabarku dan juga mengenai hubunganku dengan pacarku. Dulunya aku sempat gengsi karena dibilang anak mami oleh temanku tapi, kini aku sudah membuktikan pada mereka kalau aku bisa dapat pacar walaupun hanya backstreet.
Beberapa bulan telah berjalan,kini backstreetku sudah bertahan selama 4 bulan. Awal-awalnya memang enak rasanya karena, backstreetku belum kentara, aku juga telah membuat kesepakatan dengan salah satu temanku dikelas, ia adalah tetanggaku sendiri, karena hanya ia yang mengetahui semuanya tentang hubunganku ini, aku menyuruhnya agar merahasiakan semua ini dari ortuku dan kakakku, aku akan memberinya imbalan berupa traktiran serta prnya aku yang akan mengerjakan, ya seperti kong kali kong begitulah. Dan ia pun menyetujuinya. Aku merasa sedikit agak tenang. Tidak berselang cukup lama, seperti kata pepatah ”sepandai-pandainya tupai melompat pasti suatu saat akan jatuh juga” , begitu juga denganku ternyata rahasiaku tidak selamanya berjalan mulus, kabar hubunganku mulai didengar oleh ibuku, entah darimana ia tahu, kalau aku telah menjalin hubungan dengan seseorang. Filingku merasa mungkin ini ulah kakakku yang secara tegas juga melarang aku pacaran. Berarti benar dugaanku selama ini, aku merasa curiga karena akhir-akhir ini ia kerap menanyakan jejaring sosialku salah satunya akun facebookku dan ternyata yang lebih parahnya lagi, teman yang aku sangat percayai selama ini, telah menusukku dari belakang dalam hatiku berkata ,” dasar serigala berbulu domba” , aku tak percaya dia tega menghianatiku dan mengadu kepada kakakku tentang hubungan backstreetku selama ini. Dia membocorkan rahasiaku dan membeberkan kelakuanku kepada kakakku, betapa hancurnya perasaanku, aku begitu marah, kecewa, emosiku memuncak dan sakit hati ketika kakakku bilang bahwa yang memberi tahunya adalah temanku itu. Sungguh tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata, aku kapok dengan begitu mudahnya aku terlalu percaya dengannya. Sangat menyesal aku telah membuat kesepakatan dengannya pada akhirnya dia malah mengingkarinya, sungguh sia-sia pengorbananku selama ini yang sudah aku lakukan untuknya.
Kakakku juga sempat beberapa kali membuka akun facebookku, aku tak tahu darimana ia mengetahui passwordnya. Dan burukya lagi, di facebook aku telah melampiaskan isi hati dan uneg-unegku selama ini, mulai dari status-statusku yang topiknya tentang cinta, galau, kesepian tanpamu, aku sayang kamu dll sempat dibaca olehnya, sampai akun facebook pacarku juga diketahuinya. Dari sana ia mengumpulkan data dan mengorek-ngorek lebih jauh tentang hubunganku. Dan ia juga mencari informasi dari status pacarku di fb dan mengkonfrmasi data –data itu melalui teman-temanku. Padahal dia sudah mengetahui backstreetku tetapi, ia hanya diam dan menunggu saat yang tepat untuk mengadu kepada ibuku. Waktu terus berlalu, backstreetku semakin panas dan kurang harmonis, aku sering cekcok dengan pacarku, karena keegoisan masing-masing. Hingga tiba saatnya, aku dipanggil oleh ibuku, perasaanku saat itu campur aduk, cemas, tegang, nervest, takut, bimbang, deg-degan dan jantungku semakin berdetak kencang, filingku tidak enak, karena aku merasa yakin ini pasti ada kaitannya dengan backstreetku, ketika mendekati ruang keluarga, disana sudah ada ortu dan kakak yang sudah menantiku, aku disuruh duduk dan tenang sebelum ibuku menyampaikan sesuatu padaku, suasana semakin memanas, ternyata benar filingku, tamatlah riwayatku akhirnya hubungan backstreetku terbongkar. Pertamanya aku mencoba untuk mengelak, tapi bukti sudah ada ditangan kakakku, dan ia sudah memperlihatkannya duluan kepada ibuku, Saat itu juga aku digojlok habis-habisan oleh ortuku, cacian dan makian tidak ada hentinya menderaku, ibu terus memarahiku, air mataku mengalir tiada henti, apa mau dikata nasi telah menjadi bubur, aku hanya bisa pasrah menghadapi semua ini, aku menyesali perbuatanku itu, aku tahu aku salah tetapi dibalik kesalahanku itu tersimpan maksud yang mengharuskanku untuk melakukan semua ini, aku tidak mau dibilang kuper, anak mami atau apalah gitu, oleh teman-temanku. Ibuku mengerti dengan apa yang aku maksud, tetapi dia tetap melarangku berpacaran apalagi backstreet seperti itu, malah ibuku takut nanti terjadi apa-apa denganku. Dia melakukan semua ini karena dia sayang padaku. Ibu kembali menasehatiku, aku menyadari perbuatanku  dan aku segera meminta maaf kepada ortuku dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, ibuku berkata, “pacaran itu ada waktunya, kamu masih kecil tidak pantas untuk pacaran, kamu harus belajar agar menjadi orang yang sukses, dan saat sukses itulah kamu baru boleh pacaran dan bebas sesukamu mencari pendamping hidupmu kelak”, begitulah ujar ibuku dengan penuh kesabaran ia menuturkannya padaku.
Saat itu juga hubungan backstreetku berakhir,karena aku lebih memilih ortu daripada pacar, aku menyampaikan alasan yang logis untuk mengakhiri hubunganku dengan pacarku, dan ia mengerti akan keadaanku sekarang, akhirnya kita memutuskan untuk berteman, tanpa ada rasa dendam dalam hati. Aku sudah tidak peduli lagi dengan omongan teman-temanku, mungkin mereka perhatian atau bisa saja iri padaku karena mereka tidak bisa sepertiku makanya mereka begitu. Yang terpenting sekarang aku yakin bahwa aku bisa lebih baik dari mereka dan tidak akan menghiraukan apa kata mereka, seperti kata pepatah “anjing menggonggong kafillah berlalu”. Kembali seperti kehidupanku dahulu istilahnya flashback gitulah, ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dan takkan terlupakan dalam hidupku. Aku harus pegang prinsipku yang sempat aku abaikan, aku tidak mau jatuh untuk yang kedua kalinya maka dari itu aku harus selalu berhati-hati dalam melangkah. Aku percaya akan diriku sendiri, tanpa ada pacar atau pendamping justru akan menambah kebahagiaanku, itu karena aku tidak ada beban dalam urusan hati. Intinya jangan mudah terpengaruh oleh teman, jadilah diri sendiri jangan menjadi orang lain, selalu turuti nasehat ortu, hilangkan sikap gengsi dari dalam diri, itu merupakan penyakit yang dapat menjadi boomerang bagi kita sendiri kalau tidak bisa mengendalikannya. Kesuksessan ada di tangan kita,dan itu tergantung bagaimana cara kita untuk meraihnya.
Nah, sekian cerpen  mengenai pengalamanku berpacaran backstreet, itu merupakan kisah nyata yang bisa aku tuturkan langsung , dan itu hanya segelintir dari kisah di kehidupanku yang bisa aku tuangkan dalam penulisan cerpenku ini, karena masih banyak lagi cerita yang belum bisa aku sampaikan saat ini. Tiada gading yang tak retak, maklum jika dalam penulisan karyaku ini masih banyak kekurangannya, mohon maaf dan terima kasih telah membaca cerpenku ini. -lr


“sekian”

Comments

Popular Posts